About Me
- Joe Cratoes
- Medan, Sumatera Utara, Indonesia
- Alumni AMIK-D3 Medicom TA 2006/2007 Komunitas MI-2CX. Masih Bodo' perlu banyak belajar lagi, pa lagi internet, programming, etc
Articles Category
- Artikel Ekonomi (2)
- Artikel Komputer (2)
- Artikel Motivasi (2)
- Artikel Pendidikan (4)
- Artikel Umum (3)
- Pemrograman (1)
- Serba- Serbi Medicom (1)
- Tips dan Trik (2)
- Tutorial Mikrotik (2)
Favorite Links
Sabtu, 14 Maret 2009
Pekan Raya Sumatera Utara
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
02:04
0
komentar
Link ke posting ini
Senin, 22 Desember 2008
Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan
Seperti kita dengar banyak aksi massa yang menentang pemberlakuan BHP ini, seperti di Medan Jumat, 19 Desember 2008 kemarin puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Medan, yang menolak undang-undang BHP di depan kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).
Sayangnya aksi tersebut dilakukan denga melakukan pembakaran ban, dan mengganggu ketertiban umum. Kadang heran juga melihat ulah mahasiswa - mahasiswa ini semakin tinggi tingkat pendidikannya tapi cara berfikirnya tidak menunjukkan orang yang terdidik. Hati boleh panas tapi harusnya kepala tetap dingin.
Alangkah lebih baik kalau aksi tersebut diwakilkan oleh beberapa orang mahasiswa dan langsung menemui orang- orang yang bertanggung jawab dengan pemberlakuan Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan, sebagai calon intelektual bangsa harusnya mahasiswa lebih mengutamakan berdiskusi daripada berdebat (Not Conflict But Consensus).
Untungnya aksi tersebut tidak mengarah kepada tindakan- tindakan anarki, massa akhirnya membubarkan sendiri aksinya dengan damai. Mereka tetap akan melakukan aksi serupa bila pemerintah tak juga menerima aspirasi tersebut. Kalau tidak bukan saja mahasiswa yang mengalami kerugian, pengguna jalan, dan masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut akan terkena imbasnya.
Tapi apa tidak kita coba bersama dulu undang- undang badan hukum pendidikan (BHP), dan sama- sama kita lihat hasilnya. Kalau toh emang bisa memajukan tingkat pendidikan kita dan tidak hanya menjadikan kampus tempat belajar bagi anak- anak kaya saja apa salahnya kalau kita terima bersama pemberlakuan BHP.
Tapi kalau memang tidak membawa dampak yang baik, bagi pendidikan dan malah mendiskriminasi anak- anak yang ekonominya menengah kebawah. Barulah sama- sama kita evaluasi mengenai undang- undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) tersebut.
Pesan buat rekan- rekan mahasiswa kita sudah punya Inteligent Quotion (IQ) tapi Emotional Quotion (EQ) juga harus kita punya. Aristoteles keberhasilan manusia itu 20% IQ dan 80% EQ.
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
18:55
2
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Pendidikan
The History of Christmas
Many of these traditions began with the Mesopotamian celebration of New Years. The Mesopotamians believed in many gods, and as their chief god - Marduk. Each year as winter arrived it was believed that Marduk would do battle with the monsters of chaos. To assist Marduk in his struggle the Mesopotamians held a festival for the New Year. This was Zagmuk, the New Year's festival that lasted for 12 days.
The Mesopotamian king would return to the temple of Marduk and swear his faithfulness to the god. The traditions called for the king to die at the end of the year and to return with Marduk to battle at his side.
To spare their king, the Mesopotamians used the idea of a "mock" king. A criminal was chosen and dressed in royal clothes. He was given all the respect and privileges of a real king. At the end of the celebration the "mock" king was stripped of the royal clothes and slain, sparing the life of the real king.
The Persians and the Babylonians celebrated a similar festival called the Sacaea. Part of that celebration included the exchanging of places, the slaves would become the masters and the masters were to obey.
Early Europeans believed in evil spirits, witches, ghosts and trolls. As the Winter Solstice approached, with its long cold nights and short days, many people feared the sun would not return. Special rituals and celebrations were held to welcome back the sun.
In Scandinavia during the winter months the sun would disappear for many days. After thirty-five days scouts would be sent to the mountain tops to look for the return of the sun. When the first light was seen the scouts would return with the good news. A great festival would be held, called the Yuletide, and a special feast would be served around a fire burning with the Yule log. Great bonfires would also be lit to celebrate the return of the sun. In some areas people would tie apples to branches of trees to remind themselves that spring and summer would return.
The ancient Greeks held a festival similar to that of the Zagmuk/Sacaea festivals to assist their god Kronos who would battle the god Zeus and his Titans.
The Roman's celebrated their god Saturn. Their festival was called Saturnalia which began the middle of December and ended January 1st. With cries of "Jo Saturnalia!" the celebration would include masquerades in the streets, big festive meals, visiting friends, and the exchange of good-luck gifts called Strenae (lucky fruits).
The Romans decked their halls with garlands of laurel and green trees lit with candles. Again the masters and slaves would exchange places
"Jo Saturnalia!" was a fun and festive time for the Romans, but the Christians though it an abomination to honor the pagan god. The early Christians wanted to keep the birthday of their Christ child a solemn and religious holiday, not one of cheer and merriment as was the pagan Saturnalia.
But as Christianity spread they were alarmed by the continuing celebration of pagan customs and Saturnalia among their converts. At first the Church forbid this kind of celebration. But it was to no avail. Eventually it was decided that the celebration would be tamed and made into a celebration fit for the Christian Son of God.
Some legends claim that the Christian "Christmas" celebration was invented to compete against the pagan celebrations of December. The 25th was not only sacred to the Romans but also the Persians whose religion Mithraism was one of Christianity's main rivals at that time. The Church eventually was successful in taking the merriment, lights, and gifts from the Saturanilia festival and bringing them to the celebration of Christmas.
The exact day of the Christ child's birth has never been pinpointed. Traditions say that it has been celebrated since the year 98 AD. In 137 AD the Bishop of Rome ordered the birthday of the Christ Child celebrated as a solemn feast. In 350 AD another Bishop of Rome, Julius I, choose December 25th as the observance of Christmas.
From http://www.holidays.net
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
18:51
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Umum
Minggu, 21 Desember 2008
Memahami Makna Natal
Saya bersyukur pernah tinggal selama kira-kira sepuluh tahun di Singapura, yaitu sebuah negara yang sangat sekuler. Dalam kurun waktu tersebut, saya menyaksikan bagaimana negara tersebut sedemikian meriah dan indah pada bulan Desember. Sejak akhir bulan November, lagu-lagu Natal sudah terdengar, baik di hotel, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan. Suasananya memang sangat jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.
Namun apa artinya semua itu? Menurut pengamatan saya, Natal lebih bernuansa business daripada kerohanian.
Barangkali, untuk seorang anak kecil, Natal berarti hadiah, di mana pada saat Natal, dia selalu mendapatkan barang baru, seperti baju baru, sepatu baru. Tanpa semua itu, rasanya, Natal belum tiba. Hal seperti itu juga yang menjadi pengalaman penulis di masa kecil.
Bagi aktivis Gereja, barangkali Natal berarti melakukan berbagai macam kesibukan, mulai dari menghias Gereja dengan berbagai dekorasi yang indah dan asesoris yang mahal, termasuk menghias pohon terang. Selain itu, ada juga kesibukan paduan suara, latihan drama, latihan menari atau berbagai jenis aktivitas lainnya. Memang, dalam kenyataannya, aktivitas anggota jemaat meningkat tajam selama Desember.
Namun, pertanyaan kritis dapat diberikan. Apakah tanpa semua itu, Natal menjadi tidak sah? Apakah orang-orang yang sibuk, bahkan dapat disebut super sibuk selama Natal telah menjamin adanya Natal yang sejati?
Dalam kenyataannya, tidak demikian. Ada cukup banyak orang yang setelah sibuk dengan berbagai kegiatan Natal, selain mengalami kelelahan, tidak mengalami apa-apa. Segera setelah Desember lewat dan memasuki Januari, segala kesibukan tersebut berakhir, simbol-simbol Natal, seperti pohon terang pun tidak lagi terlihat.
Namun apa yang masih sisa? Barangkali, jawabnya bisa sangat menyedihkan. Tidak ada yang tersisa. Hati kosong, tetap kosong dan bahkan semakin kosong. Orang-orang yang berbuat dosa, tetap berbuat dosa! Dalam kondisi demikian, Natal bukan saja menjadi tidak bermakna, tapi bahkan sesat makna.
Natal Sesungguhnya
Dalam kondisi seperti di atas, Gereja dan umat harus terus-menerus waspada agar tidak terjerat kepada kegiatan dan rutinitas semata. Untuk itu, Gereja harus melepaskan diri dari berbagai pengaruh dunia yang negatif serta terus-menerus kembali kepada Alkitab. Dengan demikian, umat dapat memahami makna Natal yang sesungguhnya.
Alkitab dengan sangat jelas mewartakan adanya makna Natal yang bersifat objektif. Maksudnya, melalui kelahiran Yesus Kristus di hari Natal tersebut, sesuatu hal yang sangat penting dan mendasar terjadi kepada manusia berdosa.
“Karena Allah sedemikian mengasihi isi dunia ini, sehingga Ia telah memberikan AnakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). Itulah kabar baik yang sangat penting dan mendasar diwartakan di dalam Injil Yohanes. Dengan perkataan lain, manusia yang seharusnya binasa karena dosa, beroleh pengampunan dan keselamatan yang pasti.
Sesungguhnya, keselamatan dan hidup kekal tersebut adalah suatu anugerah yang sangat berharga yang tidak mungkin dapat dibeli dengan uang atau dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal tersebut, juga tidak dapat diberikan oleh agama dan keyakinan apapun.
Namun, sangat disayangkan, sekalipun berita Alkitab tersebut sangat jelas, dalam kenyataannya, banyak orang yang setelah merayakan Natal tetap saja tidak memiliki keyakinan akan pengampuan dosa serta kehidupan yang kekal.
Hal itulah yang pernah disaksikan oleh seorang nenek yang telah berusia lanjut. Ketika seorang pendeta bertanya ke mana jiwanya setelah meninggal, dengan ringan nenek tersebut menjawab: “Tidak tahu”.
Kiranya hal seperti itu tidak terjadi kepada kita semua. Sebaliknya, kita menunjukkan bahwa sesungguhnya segala kesibukan tersebut di atas keluar sebagai ungkapan syukur karena telah mengalami karyaNya yang sangat ajaib tersebut.
Tidak saja demikian, kehidupan seluruh umat yang telah mengalami keselamatan tersebut, harus terus-menerus diilhami oleh teladan Yesus Kristus yang sedemikian sempurna. Keteladanan Yesus tersebut sangat diperlukan dalam membangun masyarakat dan bangsa yang sedang mengalami berbagai macam krisis kehidupan.
Teladan seperti apa? Teladan Yesus yang hidup mengasihi, memang sangat diperlukan dalam dunia yang penuh kebencian dan persaingan. Teladan Yesus yang rela berkorban dan semangatNya memberi diri bagi kebaikan sesama, merupakan hal lain yang sangat penting dan mendesak untuk kita miliki, khususnya di dalam dunia yang semakin egois dan tidak perduli kepada sesama.
Akhirnya, teladan kesederhanaanNya, juga sangat diperlukan dalam zaman yang sangat menonjolkan dan membanggakan kemewahan ini. Di tengah-tengah gaya hidup yang semakin wah dan gemerlapan, ada satu fakta dan realita yang penting untuk direnungkan: Tuhan dan Juruselamat dunia, lahir di dalam palungan.
Seorang rekan pernah memberikan sebuah pernyataan yang sangat mengesankan: “Satu-satunya Pribadi yang dapat memilih tempat kelahiranNya, memilih lahir di palungan”. Jika demikian, teladan siapa yang sedang kita ikuti? n
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
18:03
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Umum
Meningkatkan Rangking Perguruan Tinggi Indonesia
Dari Benua Asia, University of Tokyo di Jepang didampingi University of Kyoto dan University of Hongkong sebagai wakil tertinggi Asia yang menduduki peringkat 19, 25 dan 26 di daftar itu. Dari negara-negara tetangga Indonesia, hanya National University of Singapore (peringkat 30) dan Nanyang Technological University (peringkat 77) yang mampu menembus rangking 100 besar Universitas di dunia. Hanya ada satu universitas lain dari Asean yang mampu duduk di rangking 166 dunia yaitu Chulalongkorn University dari Thailand.
Lepas dari hasil itu, marilah kita analisis kriteria apa yang digunakan untuk menentukan peringkat tersebut. Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh penyusun peringkat ini. Kriteria paling penting dengan bobot 40% adalah penilaian berupa ‘peer review’ dari 6354 orang akademisi dari seluruh dunia yang mewakili berbagai bidang ilmu dan juga lokasi geografis. Para ahli dari Amerika Utara, Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin mendapat alokasi yang proporsional.
Kriteria penting berikutnya adalah jumlah kutipan tulisan di jurnal ilmiah internasional per staf akademik dan rasio staf akademik dibanding mahasiswa dengan bobot masing-masing 20%. Sisa pembobotan lainya adalah penilaian dari perusahaan atau institusi perekrut lulusan, serta jumlah mahasiswa dan staf akademik yang berasal dari luar negeri.
Menilik kriteria utama yang berupa penilaian dari akademisi di seluruh dunia tentang reputasi universitas lainnya, tidak ada satupun institusi dari Indonesia yang dipandang bahkan dengan sebelah mata oleh mereka. Nama perguruan-perguruan tinggi besar di Indonesia ternyata belum masuk dalam khasanah pemikiran para akademisi dunia.
Hal yang juga menarik adalah bahwa ternyata fasilitas gedung yang megah, halaman parkir yang luas, serta jumlah komputer yang tersedia bukanlah kriteria yang patut dijadikan pedoman baiknya mutu sebuah pendidikan tinggi. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa perguruan tinggi dengan gedung yang megah merupakan indikator utama mutu sebuah institusi pendidikan. Persepsi dikalangan kaum akademis sendiri ditambah dengan mutu produk yang dihasilkan (yang diukur dengan jumlah kutipan jurnal internasional dan rasio dosen-mahasiswa) adalah hal yang lebih penting.
Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih meningkatkan namanya di mata internasional? Ada dua hal yang merupakan kunci jawaban dalam hal ini.
Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia.
Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? Tentu saja faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya. Pihak perguruan tinggi harus berupaya untuk tidak hanya mampu menyediakan insentif finansial yang memadai namun juga harus mampu menciptakan iklim akademis yang mendukung agar stafnya dapat menghasilkan produk pendidikan dan penelitian yang baik.
Kedua diperlukan upaya serius untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset di perguruan tinggi dan diseminasi hasilnya di publikasi internasional. Selama ini, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mendengung-dengungkan pentingya riset pada kehidupan sebuah perguruan tinggi. Hanya sayangnya sebagian besar hal ini hanya tinggal sebatas jargon belaka yang belum banyak buah nyatanya.
Persepsi kalangan akademik dunia terhadap perguruan tinggi di Indonesia bisa berubah bila mereka bisa lebih sering membaca produk riset berupa laporan hasil penelitian, review, pandangan, argumentasi, atau kritik ilmiah yang dituliskan pada berbagai jurnal-jurnal ilmiah internasional. Untuk itu, diperlukan upaya dari institusi di Indonesia untuk dapat menggencarkan upaya staf-nya agar dapat menelurkan riset dan mempublikasinya ke jurnal internasional.
Tentu saja ini membutuhkan upaya peningkatan kemampuan staf akademis dalam melakukan penelitian secara baik pada bidang-bidang yang strategis dan penting. Disamping itu, hasil penelitian yang brilian tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dideseminasi dengan baik melalui tulisan-tulisan ilmiah. Ketidakmampuan menulis utamanya dalam bahasa Inggris menjadi hambatan utama dalam hal ini.
Peningkatan upaya riset tentu membutuhkan sumber daya finansial untuk mendukungnya. Perguruan tinggi bisa mencoba bermitra dengan perusahaan serta institusi baik dari dalam maupun luar negeri untuk bekerja sama dalam melakukan penelitian yang hasilnya berguna bagi kedua pihak. Pemerintah juga seyogyanya ikut membantu dengan mengalokasikan lebih banyak dana penelitian yang bisa diperebutkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dalam bentuk dana hibah penelitian atau sejenisnya.
Hasil-hasil riset yang telah dikemukakan diatas dapat dijadikan amunisi yang kuat sebagai bekal peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum.
Meningkatkan kualitas pendidikan dan riset adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya.
Sumber : http://donowidiatmoko.wordpress.com
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
17:41
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Pendidikan
Selasa, 25 November 2008
Membasmi Virus Lokal Secara Manual
Bagian I: Menghentikan Running Virus
Bagian II: Menghapus Virus-virus
Sumber : www.beritanet.com
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
19:42
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Komputer, Tips dan Trik
Minggu, 23 November 2008
Pria Lebih Rajin “Beres-beres” Saat Masih Berstatus Pacar
Bagi para cewek, jangan heran jika punya pacar yang rajin beres-beres rumah, bahkan juga suka memasak. Tapi kelak kalau sudah jadi suami, mereka justru akan malas melakukan pekerjaan rumah tersebut. Mengapa? Sebuah studi sosiologi membuktikan bahwa pernikahan di negara modern pun tetap memegang nilai tradisional ikwal peran lelaki dan perempuan.
Lelaki yang belum menikah terlibat lebih banyak pekerjaan rumah tangga daripada yang sudah menikah. Sedangkan perempuan justru kebalikannya. Demikianlah hasil sebuah survei yang dilakukan oleh ilmuwan sosiologi Amerika Serikat belum lama ini. “Pernikahan sebagai sebuah institusi memiliki efek tradisional bagi pasangan suami istri, bahkan pada pasangan yang sudah menganggap bahwa lelaki dan perempuan itu sejajar sekalipun,” ujar Shannon Davis, pakar sosiologi dari George Mason University, Virginia.
Davis dan timnya melakukan studi terhadp 8119 lelaki dan 9517 perempuan dari 28 negara baik yang sudah menikah maupun belum selama tahun 2002. Hasilnya, kaum Adam melakukan pekerjaan rumah selama 9 jam seminggu, sedangkan perempuannya 20 jam seminggu. Namun pada lelaki lajang, dijumpai bahwa mereka lebih banyak melakukan pekerjaan rumah daripada yang sudah menikah. Kebalikannya, perempuan lajang lebih sedikit melakukan “beres-beres” rumah daripada saat mereka sudah menikah. Artinya, setelah menjadi istri, kaum Hawa lebih banyak memegang sapu daripada saat masih gadis.
Faktor Ekonomi
Ini memperlihatkan bahwa di negara maju sekalipun, pernikahan masih menjadi institusi tradisional yang membuat perempuan didudukan sebagai ibu rumah tangga kendati pasangan itu berwawasan modern. Peran suami dan istri tetap kuat pada kehidupan yang sudah mengenal ekualitas atau persamaan gender. Studi ini juga mengatakan bahwa suami yang berpenghasilan lebih rendah dari istrinya akan melakukan kerja rumah lebih banyak ketimbang yang berkantong tebal. Apa bisa disimpulkan bahwa jika makin kaya si lelaki maka ia makin terbebas dari beban “beres-beres” rumah? Bisa jadi. Sebab kian sebuah keluarga berpenghasilan tinggi, mereka mampu membayar orang lain untuk membereskan rumahnya. Dan suami istri tidak perlu pusing dengan pembagian tugas siapa yang harus menyapu hari ini.
Diterjemahkan secara bebas dari Livescience.com
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
02:37
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Umum
Sarjana Komputer, Ingin Jadi Apa?
Apa saja profesi yang tersedia bagi mereka yang menekuni bidang Teknologi Informasi? Jangan takut, ada segudang. Industri Teknologi Informasi (TI), terus melangkah maju dengan perusahaan raksasa kelas dunia, seperti Microsoft dan IBM. Khusus di Indonesia industri TI dapat dikembangkan dan menyumbangkan devisa negara, paling tidak sekitar USD 8,2 miliar sampai tahun 2010. Target ini tidak berlebihan karena pasar dunia TI sudah mencapai USD 1 triliun. Kebutuhan SDM TI profesional semakin tinggi, sehingga memungkinkan banyak pekerjaan di bidang TI yang bisa dilakukan.
Kekurangan SDM
Tenaga TI profesional tidak mudah diperoleh bahkan di Lembah Silikon (AS) sekalipun masih kekurangan SDM TI. Mereka mendapatkan SDM TI dengan mengimpor dari India dan Cina, atau melakukan relokasi pabriknya ke negara berkembang seperti Indonesia. Teknologi Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok setiap organisasi atau perusahaan, karena merupakan senjata paling ampuh untuk memenangkan persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi Informasi tidak lagi dipandang sebagai biaya, akan tetapi merupakan investasi mutlak demi kelangsungan hidup perusahaan. Investasi ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan SDM yang unggul dan memiliki keterampilan serta profesionalisme di bidang Teknologi Informasi.
Sebagai solusi dari permasalahan diatas, maka perlu dicetak profesional TI yang siap terap, handal dan mandiri, siap berkompetensi dalam kancah perkembangan teknologi global yang sarat keunggulan.
Menghadapi tantangan persaingan global AFTA, program Studi S-1 Sistem Informasi dan Teknik Informatika di beberapa PTS harus membekali mahasiswanya dengan pendidikan yang berbasisikan kepada ”IT Industrial Based” serta penguasaan Bahasa Inggris Bisnis dan Sains yang fasih, untuk memenuhi baik sasaran lapangan pekerjaan maupun studi lanjut. Adapun mengenai kompetensi bidang keahlian yang harus dimiliki oleh setiap jurusan adalah sebagai berikut :
Bidang Keahlian Prospek Karir & Profesi
Rekayasa Perangkat Lunak
Para Sarjana Komputer (S.Kom) yang menyandang gelar Sarjana Teknik Informatika bidang keahlian rekayasa perangkat lunak memiliki peluang terbesar untuk bekerja pada berbagai sektor industri produk maupun jasa, untuk mengisi posisi pada departemen teknologi informasi (EDP) dan information system development, atau bekerja sebagai System Analyst, System Support, Database Administrator dan Programmer.
Desain Grafis & Multimedia
Berbekal pengetahuan mengembangkan software grafis & multimedia, para Sarjana Komputer yang menyandang gelar Teknik Informatika bidang keahlian Disain Grafis & Multimedia dapat memasuki berbagai macam industri seperti software house, otomasi perkantoran, perusahaan yang bergerak di bidang sistem pengamanan (security system) menggunakan citra / grafis / biometric, perusahaan yang bergerak dibidang advertising, entertainment dan multimedia.
Perangkat Lunak Sistem & Jaringan
Tingginya kebutuhan akan tenaga ahli dalam perangkat lunak sistem dan jaringan menyebabkan profesi ini menjadi salah satu tulang punggung pada industri yang operasionalnya banyak mengandalkan pengolahan data berbasis jaringan. Diantaranya adalah internet service provider (ISP), manufacturing company dan berbagai industri sektor jasa, seperti : rumah sakit, hotel, bank, sekolah dan universitas.
Manajemen Informatika
Salah satu nilai lebih para lulusan Sarjana Komputer (S.Kom) yang menyandang gelar Sarjana Sistem Informasi bidang keahlian manajemen informatika adalah kualifikasi mereka yang mampu mengisi posisi-posisi dalam ruang lingkup yang sangat luas, terutama dibidang manajemen teknologi informasi.
Komputerisasi Akuntansi
Bidang Akuntansi adalah salah satu bidang yang dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Perkuliahan mata kuliah Akuntansi berbasis komputer selain membentuk ahli-ahli akuntansi berkualitas tinggi, tetapi juga menjadi tenaga profesional yang handal dalam rekayasa sistem informasi akuntansi serta terampil dalam bidang pengembangan sistem akuntansi, baik yang berbasis komputer maupun manual. Bidang keahlian Komputerisasi Akuntansi mempersiapkan para mahasiswanya untuk bekerja dan membina karir di bidang pengembangan sistem informasi akuntansi yang sangat menunjang semua sektor industri.
E-Commerce
Sektor industri e-commerce seperti perusahaan-perusahaan trading, export-import, hotel dan perbankan adalah beberapa sektor industri yang sangat membutuhkan keahlian di bidang e-commerce.Bidang keahlian ini diharapkan dapat bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce atau bidang internet, untuk mengimplementasikan pengetahuan manajemen dan akuntansi yang diperolehnya secara profesional dalam rangka melakukan rekayasa sistem perdagangan elektronik (e-commerce) & pengembangan sistem informasi berbasis web.
Peluang kerja di bidang Teknologi Informasi lainnya, yang saat ini masih banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri adalah System Analis, IT Help Desk, AutoCAD Drafter, Sales, Project Manager, Computer Operator, Programmer, Teknisi Komputer, EDP Staff, WebMaster, Web Chief Editor, Web Administrator, Web Designer, Software Engineer, Database Engineer,Manager Web Content, Unix Admnistration Manager, Director Software, Java Developer, Network Specialist, Network Manager, System Architect.
Referensi:
* www.i2bc.org/news/itnews3.html
* www.jobsdb.com
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
01:59
1 komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Komputer
Sabtu, 22 November 2008
Batu Rubi Yang Retak
Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.
Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan
semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah
membuat raja yang dicintainya berbahagia.
Netter yang luar biasa…. Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.
TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI
Shi Shang Mei You Shi Quan Shi Mei De Ren
Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki
kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun. Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!
Sumber: Batu Rubi yang Retak oleh Andrie Wongso
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
09:38
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Motivasi
Kamis, 20 November 2008
Demontrasi Lagi, Demonstrasi Lagi...!
Mungkin kita sering dengar di media elektronik maupun surat kabar mengenai demonstrasi buruh, demonstrasi mahasiswa, dan demonstrasi lainnya. Kebanyakan demonstrasi tersebut berakhir rusuh, dan menyebabkan kerugian yang sangat besar baik materi maupun spiritual. Banyak fasilitas umum yang rusak, sekaligus juga mengganggu ketentraman umum. Apa tidak lebih efektif kalau di adakan pertemuan tanpa pengerahan massa!
Seperti kita lihat sendiri demonstrasi agar BBM tidak naik, berapa banyak fasilitas umum yang rusak karena itu, toh hasilnya BBM tetap aja naik. Demonstrasi mengenai hasil Pilkada, tetap saja keputusan yang sudah keluar tidak bisa ditarik lagi. Malah kadang sampai ada korban nyawa, sepertinya nyawa sudah tidak ada nilainya lagi.
Jaman sudah semakin maju, teknologi terus berkembang dan semakin memudahkan kegiatan kita tapi Emotional Quotient (EQ) kita semakin terbelakang, padahal yang lebih menentukan keberhasilan dari dari suatu negera adalah orang- orang yang lebih baik Emotional Quotient (EQ) ketimbang Inteligent Quotient (IQ) Albert Einstein "Keberhasilan seseorang hanya 20 % dari IQ selebihnya adalah EQ". Tapi sekarang yang terjadi sebaliknya, sehingga tingkah manusia tidak mencermin tindakan seorang manusia yang memiliki akal dan pikiran tapi lebih mengandalkan nafsu.
Sudah sepantasnya sebagai seorang mahasiswa calon intelektual masa depan Indonesia, kita harus mempunyai sifat bangga memiliki ilmu pengetahuan, bertanggung jawab, tahan mental menghadapi kesulitan, lebih mengutamakan berdiskusi dari berdebat, hormat pada aturan, menghormati hak orang lain, memiliki disiplin yang baik, dan sifat- sifat baik lainnya.
Diposkan oleh
Joe Cratoes
di
04:01
0
komentar
Link ke posting ini
Label: Artikel Ekonomi, Artikel Pendidikan
Daftar Blog
-
Pindang Tulang - Bumbunya sama seperti pindang ikan kakap, yang ini pakai daging sapi bagian tulang. Lebih mantap lagi kalo pake bagian iga. Gurihnya kaldu sapi melebur den...13 jam yang lalu
-
Tabligh Akbar di Jakarta Bersama Al-Ustadz Luqman Ba’abduh - Hadirilah kajian Islam Ilmiah dengan tema: “Tips Agar Anak tidak Menjadi Teroris” Bersama: Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -Hafidhahullah- (Penulis buku spektaku...15 jam yang lalu
-
2012 | Apel di atas kepala fotografer - Bayangkan sebuah apel yang dijatuhkan 3000 m di atas permukaan bumi dari sebuah helicopter yang sedang melayang di tempat. Apel itu tepat vertikal di atas ke...1 hari yang lalu
-
-
Google Latitude: Fungsi GPS dalam Handphone Non GPS - Sempat terpikir untuk membuat aplikasi yang memanfaatkan lokasi BTS sebagai acuan untuk fungsi ‘positioning system’. Eh ternyata keduluan sama Google. :D ...2 hari yang lalu
-
Mojosoft Photo Frame Studio v2.2 - Program PHOTO FRAME STUDIO 2.2 has been designed to edit and decorate digital photographies. Thanks to the program each picture will look different and opera...3 minggu yang lalu
-
Surat untuk Pembaca - Dear all Sukrablog friends, Thxx banget buat yang selalu intens memperhatikan sukrablog, memberikan komen dan inspirasi. Atas dukungan dan harapan dari tem...3 minggu yang lalu
-
Recovery Partisi With Linux PartedMagic LiveUSB - Terkadang kita ceroboh dalam melakukan pemartisian, sehingga partisi yang kita punya tanpa sadar telah hilang/terformat. Hal ini tentunya akan membuat kita...4 minggu yang lalu
-
Bonus Lagi...Lagi... dan Lagiiii................... - Met Pagi Semuanya.................... Kurang lebih 2 bulan saya tidak merawat blogku yang atu ini. Dah Lama sekali rasanya, ada rasa kangeen juga posting d...7 bulan yang lalu
-



